twitter instagram
  • Home
  • Japanese
  • Mandarin
  • Korea
  • Dark Fairytales
  • Nonfiksi

Asako no Niwa

Irrashaimase mina-san. Douzou yonde kudasai


Judul Asli: 灼熱 (Shakunetsu)
Judul Terjemahan: Burning Heat
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari
Pemeriksa Bahasa: Andry Setiawan
Penyunting: Prisca Primasari, Lovita Cendana
Penyelaras Aksara: Francisca Ratna
Desainer Sampul: Pola
Penata Sampul: @baiknyarudi
Genre: Thriller, Romance
Jenis: Japanese Literature
Penerbit: Penerbit Haru
ISBN: 978-623-7351-65-8
Ukuran: 13x19 cm
Tebal: 296 Halaman
Cetakan ke: 1
Terbit: Maret 2021
Harga: Rp 93.000,00
Rating: 4 of 5

        Konichiwa mina-san, hari ini saya akan mereview sebuah novel karya Akiyoshi Rikako. Setelah membaca 7 Tahun Kegelapan yang tebal membuat saya cukup terkejut dengan kemampuan membaca saya yang masih sama seperti semula. Novel Akiyoshi selalu berhasil saya habiskan dalam sekali duduk. Sangat menyenangkan dan membuat saya merasa melepas rindu dengan karya-karya sensei yang luar biasa. Langsung saja kita mulai reviewnya.

Blurb:
Aku menikah dengan pembunuh suamiku.
Demi menuntut keadilan.

Review
        Cover novel Akiyoshi-sensei kali ini terkesan mengerikan tampa wajah seorang perempuan dan potongan kaca. Sorot matanya memberikan sesan yang mengerikan. Saya sangat suka perpaduan warna hitam dan merah, memberikan kesan thriller yang cukup menggelitik rasa penasaran saya. Border pada bagian belakang cover sangat khas novel Akiyoshi-sensei, latar hitam sangat serasi dengan novel-novel lainnya. Judul novel memiliki font yang sangat cantik dengan fill putih.

        Alur cerita ini merupakan alur maju dengan beberapa kali flashback. Novel ini merupakan novel ketiga yang mengangkat hal yang berbau kedokteran dan beberapa istilah kedokteran selain Memory of Glass dan Holy Mother. Selain tema kedokteran, novel ini menyinggung tentang operasi plastik dan tema romance pun tidak luput diangkat pada novel ini. Karakter tokoh utama, Emi sangat unik. Begitu pula Hideo dan Akiko. Perkembangan hubungan antara Emi yang suami terdahulunya dibunuh oleh Hideo (suami Emi yang sekarang) dibangun dnegan sangat baik. Begitu pula hubungan antara Emi dan Akiko serta latar belakang Emi yang dijelaskan dengan detail, begitu pula perkembangan emosinya. Pada bagian awal kita sudah diberikan misteri kematian Tadatoki, namun pada pertengahan bau romansa mulai terasa hingga tanpa sadar perlahan sensei membawa kita menuju ke konflik sebenarnya. Amanat novel ini adalah tentang arti sebuah ketulusan dan cinta.

        Saya tidak pernah menyangka akan membaca novel serupa dengan Memory of Glass namun dengan tokoh-tokoh seperti dalam The Dead Returns. Saya merasa bahwa Burning Heat adalah hasil perkawinan kedua novel itu. Memberikan saya nuansa yang hangat dan lembut, sangat kontras dengan covernya. Bagian dari novel ini yang paling saya suka adalah ketika Emi membuang seluruh peralatan makan yang berasal dari Bone China. Saya bisa merasakan bagaimana trauma, jijik. Kesan gore sama sekali tidak terasa, namun saya sangat menyukai novel ini. Saya yang biasa mencari unsur gore pada setiap novel Thriller dan misteri, namun sangat menikmati romansa tokoh yang ada dalam novel ini. Tidak berlebihan dan terasa menyenangkan setiap membacanya meskipun rasanya tetap membuat penasaran.

        Novel ini saya rekomendasikan kepada para fans Akiyoshi sensei. Untuk mina-san yang jatuh cinta pada Memory of Glass dan menyukai karya yang terasa ringan seperti The Dead Returns bisa membeli novel ini. Untuk mina-san yang menyukai Jepang dan ingin membaca romance tapi mendapatkan pengetahuan pada bidang kedokteran, novel ini merupakan jawaban untuk kalian. Untuk novel seharga Rp 93.000,00 dengan pengalaman membaca yang luar biasa, saya rasa sangat sebanding. Sekian review singkat dari saya. Sampai bertemu di review lainnya. Mata Ashita nee~

Tulag suamiku.
Bukan suamiku yang barusan. Bukan Hideo.
Tulang suamiku yang dulu; tulang Tadatoki.
-Halaman 8-
April 13, 2021 5 komentar


Judul Asli: 7 년의 밤 (7 nyeon-ui bam)
Judul Terjemahan: 7 Tahun Kegelapan
Penulis: Jeong You-Jeong
Alih Bahasa: Iingliana
Desain Cover: Martin Dima
Genre: Thriller
Jenis: Korean Literature
Penerbit: Penerbit Gramedia Psutaka Utama
ISBN: 9786020646602
Ukuran: 14x20 cm
Tebal: 560 Halaman
Cetakan ke: 1
Terbit: November 2020
Harga: Rp 139.000,00
Rating: 4 of 5

    Hisashiburi mina-san, lama tidak berjumpa. Lama menimbun buku karena slump akhrnya saya berhasil menyelesaikan satu buku tebal dengan genre thriller, crime. Kali ini bukan judul Jepang, namun Korea. Tentunya ada alasan besar mengapa saya membeli buku ini, karena saya yakin buku ini sangat bagus. Yang membuat saya lebih yakin karena penulis buku ini adalah Jeong You Jeong. Mari kita mulai reviewnya.

Blurb:
Seorang anak perempuan ditemukan tewas di Danau Seryeong,
waduk yang terkenal angker di sebuah desa terpencil di Korea.
Ayah korban dan dua petugas keamanan waduk masing-masing
menyimpan rahasia tentang malam kematian anak itu. Sementara
polisi mulai melakukan pengusutan, ketiga pria tersebut juga
berusaha menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi tanpa
membongkar rahasia gelap mereka sendiri.

Setelah bentrokan terjadi di waduk yang mengakibatkan tragedi
massal, salah satu petugas keamanan tersebut ditahan atas
tuduhan pembunuhan.

Selama tahun-tahun berikutnya, Choi Seo-won hidup di balik
bayang-bayang kejahatan ayahnya yang mengejutkan. Ke mana
pun ia pergi, seseorang selaly mencoba menguak identitasnya
sebagai anak seorang pembunuh. Ketika suatu hari ia menerima
paket yang konon akan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi
di Danau Seryeong, Seo-won menyadari bahwa permainan 
mengerikan yang dimulai tujuh tahun lalu...belum berakhir.

Review:
       Cover Seven Years of Darkness ini di dominasi warna hijau dan hitam. Tampak pemandangan seperti rawa dari pada danau, menurut saya pribadi. Namun, kesan mistis sangat terpancar pada novel ini. Terdapat lampu sorot mobil pada novel ini yang semakin memberikan rasa penasaran. Suasana hujan membuat novel ini semakin terlihat mengerikan serta ilustrasi dataran tinggi seperti bukit dan danau melengkapi cover dengan suasana misteri yang mencekam, mengingatkan saya pada novel sebelumnya yaitu Good Son.

        Novel ini memiliki alur maju namun terasa lambat membuat novel Seven Years of Darkness memiliki jumlah halaman yang lebih banyak dari pada Good Son. Sama halnya dengan Good Son yang didominasi deskripsi, Seven Years of Darkness pun demikian hal ini dikarenakan penulis menjelaskan latar belakang keluarga masing-masing dan kronologis kejadian yang nantinya membantu kita untuk menilai dan terjun ke dalam karakter yang ada di dalm novel. Latar yang berada di dalam cerita terasa hidup, Jeong You Jeong berhasil mendeskripsikan latar dengan baik sehingga berhasil membuat saya merasakan betapa gelap, dingin dan mengerikannya desa Seryeong. Tak hanya desa Seryeong, karena cerita ini juga berpusat di desa Mercusuar. Beruntungnya pada bagian belakang novel terdapat gambaran desa Seryeong dan desa Mercusuar. Perkembangan karakter yang ada di dalam cerita ini membuat saya bergidik ngeri, bagaimana tidak. Saya seperti membaca Absolute Justice versi Korea. Tokoh utama dalam cerita ini yaitu Choi Seo-won terasa sangat dinamis begitu pula dengan tokoh lainnya dikembangkan dengan baik. Amanat yang diberikan sangat jelas, awalnya saya menolak namun hingga akhir, saya menerima pemikiran penulis yang realistis bahwa di dunia ini tidak ada yang 100% benar dan 100% salah, melainkan keabu-abuan, penulis bahkan menyebut novel ini "Daerah Abu-abu". 

      Bagian yang menarik pada novel ini adalah bagiamana penulis berhasil mengemas "daerah abu-abu" dan menampar kita dengan realita. Bahkan penulis berhasil membuat saya mempertanyakan sanksi sosial. Novel ini memang memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikannya, namun hal ini setimpal dengan perkembangan karakter yang diberikan. Penulis berhasil mengemas kasih sayang keluarga, kriminal, psikopat, balas dendam dan sebuah pengampunan dengan baik. Banyak pesan yang sebenarnya bisa kita dapatkan dari masing-masing tokoh yang ada dalam Seven Years of Darkness dan bisa dijadikan sebagai bahan introspeksi. Jeong You Jeong juga melakukan riset tentang diving. Saya seperti terseret ke dalam arus yang ada di desa Seryeong, terasa gelap dan mengerikan di awal namun semkin menuju ke akhir, semakin saya mengetahui arti kasih sayang orang tua. Sungguh, saya merasa takjub dengan kemampuan beliau mengemas novel ini. Ending novel ini pun berhasil membuat saya lega.

            Novel ini saya rekomendasikan untuk para fans Jeong You Jeong, untuk mina-san yang merindukan Good Son, namun mengharapkan kesan yang berbeda. Para penikmat cerita misteri kriminal dan mina-san yang menyukai cerita beralur lambat namun dalam, novel ini adalah jawabannya. Meskipun dibandrol dengan harga yang tidak terlalu murah, yakni Rp 139.000,00 namun novel ini berhasil menyeret perasaan dan berhasil membuat mina-san mempertanyakan banyak hal. Dengan halaman setebal 560 halaman, saya rasa sebanding dengan harga novel ini apalagi berasal dari penulis sekelas Jeong You Jeong. Sekian review dari saya, semoga bisa membantu mina-san. Sampai jumpa di review lainnya. Mata Ashita ne~

Namun ada satu hal yang tidak cocok dalam spekulasi ini. Oh Yeong-je sudah tewas tujuh tahun lalu. Seluruh dunia tahu ia tewas di tangan Ayah. Halaman 60
April 02, 2021 No komentar

 

Judul Asli: ナミヤ雑貨店の奇蹟 (Namiya Zakkaten no Kiseki )
Judul Terjemahan: Keajaiban Toko Kelontong Namiya
Penulis: Higashino Keigo
Alih Bahasa: Faira Ammadea
Editor: Pandam Kuntaswari
Ilustrasi sampul: Martin Dima
Genre: Fantasy
Jenis: Japanese Literature
Penerbit: Penerbit Gramedia Psutaka Utama
ISBN: 9786020648293
Ukuran: 14x20 cm
Tebal: 400 Halaman
Cetakan ke: 1
Terbit: November 2020
Harga: Rp 130.000,00
Rating: 4 of 5

        Konichiwa mina-san, kali ini saya akan mereview sebuah novel karya Higashino-sensei. Jika selama ini kita mengenal Higashino-sensei sebagai penulis novel misteri, kali ini sensei memberikan warna yang berbeda dalam karya sastranya. Higashino-sensei mengusung genre Fantasy pada bukunya yang berjudul Keajaiban Toko Naminya. Seberapa ajaib novel ini? Mari kita mulai reviewnya.

Blurb
Ketika ketiga pemuda berandal bersembunyi di toko
kelontong tak berpenghuni setelah melakukan 
pencurian, sepucuk surat misterius mendadak
diselipkan ke dalam toko melalui lubang surat.

Surat yang berisi permintaan saran. Sungguh aneh.

Namun, surat aneh itu ternyata membawa mereka 
dalam petualangan melintasi waktu, menggantikan
peran kakek pemilik toko kelontong yang
menghabiskan tahun-tahun terakhirnya 
memberikan nasihat tulus kepada orang-orang 
yang meminta bantuan.

Hanya untuk satu malam.

Dan saat fajar menjelang, hidup ketiga sahabat itu
tidak akan pernah sama lagi.

Review
        Cover novel ini di dominasi warna ungu dan hitam seakan ingin menggambarkan langit malam, ditambah dengan beberapa titik putih yang saya asumsikan sebagai bintang. Kesan fantasy sangat terasa dengan pemilihan cover ini.Pemilihan desan cover dan font yang terkesan sederhana, membuat nyaman ketika melihat bagian cover. Salah satu novel Higashino-sensei yang saya suka. Bagian belakang cover pun tampak sederhana.

        Alur novel ini maju mundur dengan sudut pandang yang berubah-ubah pada tiap babnya.  Mungkin akan sedikit membingungkan di awal, namun lama-lama akan terbiasa. Sudut pandang pun berubah-ubah. Tokoh utama dalam novel ini adalah para penulis surat konsultasi. Karakter yang ada di dalam novel ini sangat beragam dan perkembangannya sangat terasa. Uniknya adalah novel ini terasa nyata, mengapa? Sama halnya ketika memberi saran, semua pilihan tergantung kepada si penerima saran. Pesan yang ingin disampaikan oleh novel ini adalah ketulusan, selain itu terdapat beberapa pesan lain pada tiap babnya. 

        Bagian yang paling saya suka adalah Alunan Harmonika di Malam Hari. Namun secara keseluruhan, saya sangat suka setiap babnya. Selalu  ada hal yang bisa dipelajari tiap babnya. Novel seperti inilah yang khas gaya Higashino-sensei. Kata perkatanya tidak ada yang sia-sia dan selalu ada pelajaran di dalamnya. Namun, ketika kalian berpikir bahwa ini adalah novel pure fantasy, ketika menjelang bab akhir kalian akan tahu jika sensei menyelipkan sedikit misteri juga di dalamnya. Mengapa toko Narumiya bisa memiliki hubungan erat dengan suatu tempat? Kalian akan mengetahui sebabnya setelah membaca novel akhirnya. Membaca novel ini serasa perasaan kalian akan diaduk-aduk dan seperti biasa sensei selalu berhasil menyentuh hati saya pada bagian akhir novel.

        Novel ini saya rekomendasikan untuk mina-san fans berat Higashino-sensei. Novel ini juga baik untuk dibaca mina-san yang suka dengan buku yang penuh makna dan pelajaran. Penggemar novel Jepang dan tentunya mina-san yang membutuhkan saran-saran dan ingin melihat kehidupan dari sudut pandang yang lain sangat wajib untuk membeli novel ini. Novel Higashino-sensei ini sudah bisa mina-san pesan secara online maupun offline dengan harga Rp 103.000,00. Silahkan membacanya sendiri, karena novel ini sungguh berhasil membuat pikiran saya terbuka. Sekian review singkat dari saya. Terima kasih telah membacanya. Mata Ashita ne~

"Aku membantu orang lain. Justru hal-hal yang kaubilang merepotkan itulah yang membuat semua upayaku berharga." Halaman 144
Januari 28, 2021 No komentar

 

Judul: Sengkarut
Isi: Ame Choko no Tenshi (Ogawa Mimei, 1923)
Lemon (Kaiji Motojiro, 1925)
Dokugusha (Edogawa Ranpo,1926)
Sakura no Ki no shita ni wa (Kaiji Motojiro,1928)
Hen na Oto (Natsume Soseki,1911)
Ningen Isu (Edogawa Ranpo, 1925)
Penerjemah: Asri Pratiwi Wulandari, ArmaniaBawon Kresnamurti, Mega Dian P
Penunting: Ribeka Ota, Yoana Dianika
Penyelaras Aksara: Andry Setiawan
Desainer sampul: @sukutangan
Kaligrafi: Rieko Kawai
Jenis: Kumpulan Cerpen Klasik Jepang
Penerjemah: 
Penerbit: Penerbit Mai
ISBN: 978-623-7351-59-7
Ukuran: 13x19 cm
Tebal: 100 Halaman
Cetakan ke: 1
Terbit: November 2020
Harga: Rp 52.000,00
Rating: 4 of 5

    Konichiwa mina-san, apa kabar? Kali ini saya akan mereview sebuah kumpulan cerpen yang tidak biasa. Lebih tepatnya adalah kumpulan cerpen klasik Jepang. Kumpulan cerpen ini berisi 6 judul cerpen terkenal dari penulis sastra klasik kenamaan di Jepang. Langsung kita mulai reviewnya.

Blurb
Sengkarut adalah sekumpulan cerita pendek karya
penulis-penulis besar Jepang pada masanya,
mulai dari cerita yang membuai hingga mencekam.

"Malaikat Permen Cokelat" karya Ogawa Minmei mengajakmu ke 
dalam perjalanan manis dan pahit sesosok malaikat 
di bungkus permen cokelat.

"Suara Misterius" karya Natsume Soseki memperkenalkanmu kepada
seorang laki-laki yang mendengar suara aneh kala di rawat di rumah sakit.

'' Kursi Manusia" dan "Rumput Racun" karya Edogawa Ranpo akan
membawamu ke dunia yang menyesatkan.

Kaiji Motojiro, sang penulis cerpenis puitis, mungkin akan membujukmu menaruh
"Lemon" di tumpukan buku, juga menggali tragedi di bawah
keindahan pohon sakura lewat "Di Bawah Pohon Sakura".

Enam karya, empat penulis besar.
Selamat datang di dunia serba sengkarut.

Review

        Saya sangat suka bagian cover yang memiliki warna latar biru kehitaman dan dipadukan dengan beberapa warna khas Jepang yang sudah dijelaskan saat pemilihan warna di Instagram Penerbit Mai. Cover kumpulan cerpen ini nampak sangat ramai dan tentu saja ada beberapa ilustrasi yang menggambarkan isi dari kumpulan cerpen. Meskipun ramai, namun tidak mengganggu mata. 

        Malaikat Permen Cokelat lebih terasa seperti cerpen untuk anak-anak dan merupakan pilihan yang tepat untuk membuka kumpulan cerpen ini. Selain karena bahasanya yang sederhana dan terjemahannya yang bagus, Malaikat Permen Cokelat mengantarkan imajinasi kita kembali ke masa kecil. Mengambil sosok Malaikat pada bungkus permen cokelat sebagai karakter utama dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu. 

        Lemon, pada bagian cerpen ini cerita mulai terasa berbeda. Tema yang diangkat pun terasa berbeda dari Malaikat Permen Cokelat. Lemon lebih terasa dewasa karena menggambarkan tentang pencarian suatu hal. Lemon mengajak kita berpikir dan menginterpretasikan sesuatu. Sangat menyenangkan dibaca karena menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama.

        Rumput Racun, pada cerpen ini Edogawa Ranpo mengajak kita untuk mengintip masalah yang ada di Jepang pada masa lampau dan digambarkan dengan sangat baik. Pertama kalinya saya membaca karya beliau, tidak terlalu misterius namun memberikan rasa seram yang luar biasa. Apalagi penggunaan sudut pandang orang pertama pelaku utama memberikan kesan yang sangat mengerikan bagi saya.

        Di Bawah Pohon Sakura, awalnya saya kira bahwa ini merupakan cerpen. Namun ternyata Di Bawah Pohon Sakura bukan hanya cerpen, namun juga seperti puisi. Pemilihan bahasa yang indah dan terasa lembut namun semakin lama semakin seram. Sangat cocok digunakan untuk membangun suasana menuju ke bagian belakang kumpulan cerpen.

        Bunyi Misterius memberikan kesan yang unik karena setelah dihadapkan Di Bawah Pohon Sakura, rasanya cerpen Bunyi Misterius tidak memberikan kesan yang cukup wah bagi saya. Namun setelah membaca cerpen Bunyi Misterius, kita akan mempelajari satu hal penting yaitu kehidupan manusia pasti berakhir.

        Kursi Manusia, salah satu karya Edogawa Ranpo yang diterjemahkan di kumpulan cerpen ini dan satu kata untuk judul ini adalah Gila. Edogawa Ranpo sangat pandai dalam memilih sudut pandang yang digunakan kadang berpindah dari orang ketiga serba tahu dan tiba-tiba menjadi orang pertama. Cerpen ini sangat cocok diletakkan di bagian akhir kumpulan cerpen karena jujur saja, saya merasa sangat ngeri ketika membacanya. Salah satu karya yang berhasil membuat saya merinding. Edogawa Ranpo sangat berhasil membuat saya paranoid.

        Untuk mina-san yang ingin membaca cerita sastra klasik Jepang, saya sarankan untuk membeli kumpulan cerpen ini. Kumpulan cerpen ini merupakan karya dari penulis Jepang ternama pada masanya dan sangat legendaris. Minaa-san tidak akan menyesal membacanya. Mina-san yang suka dengan kebudayaan Jepang, saya anjurkan untuk membeli kumpulan cerpen ini. Buku ini bisa dibaca sekali duduk dan mina-san tidak akan bisa berhenti sebelum selesai. Kumpulan cerpen ini dapat dibeli di toko buku online maupun offline seharga Rp 52.000,00 sangat murah untuk sebuah kumpulan cerpen yang merupakan karya dari penulis kenamaan. Sekian review singkat dari saya. Semoga membantu mina-san. Mata Ashita ne~
Januari 28, 2021 No komentar

 


Judul Asli: いまさら翼といわれても (Imasara Tsubasa to Iwaretemo)
Judul Terjemahan: Even Though I'm Told I Now Have Wings
Penulis: Yonezawa Honobu
Genre: Mystery
Jenis: Japanese Literature
Penerbit: Haru Media
ISBN: 978-623-7351-48-1
Ukuran: 13x19 cm
Tebal: 436 Halaman
Cetakan ke: 1
Terbit: November 2020
Harga: Rp 103.000,00
Rating: 5 of 5

    Konichiwa mina-san, hisashiburi desu ne~ sudah lama sekali tidak bertemu. Beberapa hal terjadi selama saya tidak menulis review. Jadi, saya memutuskan untuk membuat review dan membaca sesempat saya. Review yang akan saya bahas kali ini adalah tentang salah satu novel kesayangan saya dari penulis favorit saya juga, Yonezawa Honobu. Dari pada semakin lama membuat penasaran, mari kita mulai saja reviewnya.

Blurb
Buku keenam seri Hyouka!

Anak-anak Klub Sastra Klasik sudah naik ke kelas 2 SMA.
Selain kasus Ohinata yang tiba-tiba tidak jadi bergabung
dengan klub kecil tersebut, mereka juga menghadapi
kasus-kasus kecil lainnya, seperti: kartu suara hantu yang
bertambah dalam pemilu ketua OSIS, juga Chitanda yang 
tiba-tiba menghilang, mengabaikan tanggung jawabnya dalam
lomba paduan suara...

Enam cerita pendek ini mungkin akan memberikan gambaran
kepadamu bagaimana anggota Klub Sastra Klasik
berkembang di tengah misteri keseharian mereka.

Review
        Seperti pada cover Hyouka sebelumnya, cover ini memiliki border dengan desain yang mirip antara volume 1 sampai volume 5, yang membedakan hanya bagian center border yang berbentuk seperti sayap. Bagian tengah dari cover novel terdapat ikon yang menjadi hint dari isi cerita dalam novel keenam Hyouka ini. Warna yang dipilih adalah warna merah muda sebagai dasar warna cover. Pemilihan warna ini sangat tampak serasi dengan warna border. Jika diamati pemilihan buku pertama dan buku keenam memiliki warna yang hampir sama. Sedangkan bagian belakang cover terdapat ilustrasi Oreki yang menyapu halaman.

        Novel ini terdiri atas enam cerita pendek. Meskipun terdiri atas enam cerita pendek, novel keenam Hyouka ini memiliki time line waktu yang saling berkesinambungan dan berurutan. Sudut pandang yang digunakan bukan hanya Oreki saja, namun setiap karakter utama lain seperti Ibara pun memiliki bagian point of view dalam salah satu cerita di novel ini. Suasana yang dimiliki enam cerita pendek di novel keenam Hyouka ini memiliki nuansa yang lebih gelap diantara novel lainnya. Penokohan dalam novel ini tidak banyak terjadi perubahan kecuali perubahan cara pandang Ibara terhadap salah satu tokoh yang telah berubah. 
 
       Genre misteri kali ini terasa benar-benar terasa dan terutama misteri terkait permasalahan yang terjadi di sekolah namun tidak seringan novel lainnya. Novel keenam ini terasa memiliki atmosfer yang semakin berat dari cerita satu ke cerita lainnya. Sekali lagi, Yonezawa Honobu-sensei berhasil memberikan kesan tiap cerita berhubungan antara satu dengan yang lainnya serta konsistensi terhadap tokoh yang diciptakan. Selain itu perkembangan karakter terasa mengalir dan sama sekali tidak dipaksakan. Terutama perkembangan tokoh Chitanda dan Ibara yang sangat terasa di novel keenam ini. Bagian cerita yang membuat saya sangat suka dengan novel ini adalah bagian terakhir novel. Meskipun memiliki kesan yang sedikit berat, namun memberikan kesan yang dalam bagi saya pribadi karena terasa sangat relate dengan kehidupan saya. 

        Judul novel ini merupakan highlight dari salah satu cerita yang ada di dalam novel dan saya sangat suka pemilihan judul serta makna yang tersembunyi dalam pemilihan judul ini. Sayangnya, Yonezawa-sensei berhasil membuat saya penasaran dan sangat tidak sabar menanti novel ketujuhnya karena ending dari novel keenam yang terasa menggantung sehingga membuat saya merasa seperti dipermainkan. Saya sangat menantikan kelanjutan dari novel ini. Ingin tahu perubahan yang terjadi pada Chitanda dan Ibara serta ending menggantung yang saya maksud? Silahkan baca novelnya. Pada salah satu cerita buku keenam ini ada yang diangkat dalam animenya. Manakah itu? Sekali lagi, silahkan baca novelnya.

        Novel ini saya rekomendasikan untuk mina-san yang menyukai anime Hyouka dan penasaran dengan kelanjutan cerita Klub Sastra Klasik. Untuk mina-san yang menyukai misteri ringan dan novel terjemahan Jepang, saya sangat merekomendasikan novel ini. Terutama untuk para penikmat karya Yonezawa-sensei, sangat rugi jika kalian tidak memiliki seri keenam ini. Sekian review amatir dari saya, semoga dapat membantu mina-san semuanya. Sampai jumpa di review lainnya. Mata Ashita ne~

"Aku ingin Oreki-kun selalu jadi pahlawanku." Halaman 122
       
Januari 02, 2021 2 komentar

Judul Asli: 青くて痛くて脆い (Aokute, Itakute, Moroi)
Judul Terjemahan: Blue, Painful, and Brittle
Penulis: Sumino Yoru
Penerjemah: Clara Canceriana
Pemeriksa Bahasa: Andry Setiawan
Penyelaras Aksara: Francisca Ratna
Desainer Sampul: Diwasandhi
Penata Sampul: @baiknyarudi
Genre: Drama
Jenis: Japanese Literature 
Penerbit: Penerbit Haru
ISBN: 978-623-7351-52-8
Ukuran: 13x19 cm
Tebal: 364 Halaman
Cetakan ke: 1
Terbit: September 2020
Harga: Rp 99.500,00
Rating: 4 of 5 

       Konichiwa mina-san, apa kabar? Hisashiburi desu ne? Karena banyak masalah ini dan itu di real jadi saya cukup lama tidak membaca buku. Apalagi setelah merasa down beberapa waktu lalu, saya terkena slump. Kali ini saya kembali dan akan mereview salah satu novel karya Sumino Yoru-sensei. Mari kita mulai reviewnya mina-san.

Blurb
Aku bertemu dengan Akiyoshi pada tahun pertama universitas.
Dia gadis yang blakblakan, tidak disukai oleh teman-teman seangkatan,
tetapi tulus dan polos. Idealisme dan antusiasmenya menyeretku untuk
membuat sebuah klub rahasia bernama Moai.

Tiga thun berlalu, Akiyoshi yang waktu itu berbincang denganku
soal mimpi dan idelaisme sudah tidak ada lagi.
Moai menjadi sebuah kebohongan besar Akiyoshi karena klub itu 
tak lagi menjunjung tinggi idealisme, bergerak hanya untuk
memuaskan ego para anggotanya.

Misiku adalah, menghancurkan untuk mengembalikan Moai
ke sosoknya yang dulu.

Namun, bisakah aku melakukannya? Bagaimnaa caranya?

Review
       Ini adalah novel terjemahan ketiga dari Sumino Yoru-sensei yang digarap oleh Penerbit Haru. Sama seperti novel Sumino Yoru-sensei lainnya, cover novel ini sama manisnya dengan novel lainnya. Didominasi warna putih dan biru sehingga nyaman di mata. Tampak sederhana, namun sangat indah. Pemilihan font yang sederhana terlihat pas dengan ilustrasi novel degan katakter Kaede dan Akiyoshi pada cover buku. Cover paling indah yang saya suka bulan ini. Bagian belakang novel juga terdapat blurb dan simbol Moai yang sekali lagi sangat nyaman untuk saya baca dan membantu orang awam yang penasaran dengan wujud Moai.

       Alur cerita terasa lambat, namun menarik. Saya sempat slump, namun saya juga semakin penasaran dengan nasib Kaede dalam novel.  Konsep yang ditawarkan novel ini juga sangat berbeda dengan novel Sumino Yoru sensei yang lainnya. Biasanya novel beliau cukup dekat dengan romance yang lumayan kental, namun disini kalian akan sedikit menemukan nuansa romance. Tentu saja karena temanya adalah tentang idealisme. Novel ini bersetting di kampus sehingga terasa sekali suasana perkuliahan serta suasana mahasiswa yang akan terjun menjadi pencari lapangan kerja di perusahaan. Alur cerita ini juga maju mundur karena terdapat beberapa bagian dimana Kaede melakukan flashback tentang Moai. Sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama pelaku utama, yaitu Kaede. Penokohan novel ini sangat menarik karena baik Kaede maupun Akiyoshi sebenarnya adalah sosok yang idealis dengan cara yang bertolak belakang. Amanat novel ini lebih agar kita jangan takut membuat kesalahan.

       Setelah membaca novel ini, saya banyak belajar tentang persahabatan, kerasnya mencari lapangan kerja di Jepang serta idealisme yang sebenarnya dimiliki oleh semua mahasiswa pada awal masuk dunia perkuliahan namun semakin luntur secara perlahan. Sejujurnya novel ini seperti sebuah sindiran untuk diri saya sendiri. Lebih dari itu, novel ini saya anggap menarik karena perjuangan Kaede berproses menjadi orang yang lebih dewasa. Sangat wajar membuat kesalahan dan kemudian memperbaikinya. Ini berlaku untuk Kaede maupun Moai. Karakter yang saya sukai? Tidak ada, karena sejujurnya saya merasa Sumino Yoru-sensei berhasil membuat karakter yang realistis. Tidak hitam, tidak putih, namun abu-abu. Tidak ada baik, tidak ada jahat, hanya ada perpaduan diantara keduanya. Sangat berhasil menuangkan kompleksnya manusia.

       Novel ini saya rekomendasikan untuk mina-san yang sedang atau akan lulus dalam dunia perkuliahan. Novel ini sangat relate dengan kehidupan mahasiswa. Saya juga merekomendasikan mina-san yang menyukai novel cukup berat, dan ingin ditampar oleh realita. Novel ini adalah jawabannya. Ini adalah novel Sumino Yoru-sensei yang paling berat yang pernah saya baca. After taste yang tidak akan pernah kalian temukan dari novel-novel sensei sebelumnya. Novel ini sudah bisa kalian beli secara online maupun offline dengan harga Rp 99.500,00. Untuk novel sebagus ini, saya rasa harganya sangat sesuai. Terima kasih banyak mina-san sekian review singkat dari saya. Semoga review saya dapat membantu. Sampai jumpa di review lainnya. Mata Ashita..

"Kalau memang ingin melakukannya, mungkin lebih baik kau membuatnya sendiri." Halaman 25
Oktober 08, 2020 4 komentar

Judul Asli: 微微一笑很倾城 (Wéiwéi yīxiào hěn qīngchéng)
Judul Terjemahan: Love O2O
Penulis: Gu Man
Penerjemah: Jeanni Hidayat
Penyunting: Hisni Munafarifana
Proofreader: Seplia
Desain kover: Junweise
Layout isi: Vanessa Fabiola
Layout kover: @teguhra
Genre: Romance
Jenis: Mandarin Novel
Penerbit: Penerbit Haru
ISBN: 978-602-6383-13-6
Ukuran: 14x20 cm
Tebal: 434 Halaman
Cetakan ke: 1
Terbit: April 2017
Harga: Rp 91.000,00
Rating: 5 of 5 

        Konichiwa mina-san, apa kabar? Kali ini saya akan mereview M Novel yang diterjemahkan oleh Penerbit Haru. Novel ini salah satu novel karya Gu Man selain Boss and Me dan Silent Separation. Novel ini terbit sebelum novel Gu Man yaitu Silent Separation. Novel ini termasuk novel yang sangat sulit dicari. Saya pribadi sempat mencari di berbagai platform belanja online, namun gagal menemukannya. Ada, namun harganya cukup mebuat saya syok. Mari kita mulai saja reviewnya.

Blurb
Zhen Shui Wu Xiang:  Wei Wei, datanglah ke Pulau Putus Cinta! Kita akan bercerai.

Semuanya dimulai dari permintaan cerai dari suami
virtual Bei Wei Wei di sebuah game online dunia
persilatan. Bagi cewek ini, pernikahan di game online
adalah sebuah permainan yang tidak nyata. Jadi, meski
permintaan cerai itu mengejutkan, Wei Wei tidak ambil
pusing.

Sialnya, para pemain lain mengira Wei Wei dimakan api
cemburu saat melihat mantan suaminya menikahi Xiao
Yu Yao Yao-cewek tercantik di game online. Pasalnya,
tiba-tiba karakter Wei Wei di game tersebut 'menyerang'
pesta pernikahan mantan suaminya.

Saat Wei Wei kebingungan, Yi Xiao Nai He, pemain
berlevel tinggi yang dijuluki 'dewa', tiba-tiba meminta
Wei Wei menikahinya,

Semuanya ini hanya permainan, tapi mengapa Wei Wei
merasakan sesuatu yang berbeda?

Review
        Kita mulai dari covernya, perpaduan antara warna putih, merah muda, biru dan ungu pada background memberikan kesan yang manis ditambah dengan ilustrasi kelopak bunga yang menambah kental kesan romance. Saya sangat suka dengan ilustrasi Wei Wei dan Xiao Nai yang membantu saya untuk membayangkan kedua sosok itu dalam game maupun dunia nyata. Desain judulnya juga tampak manis namun tetap bisa dibaca. Pada bagian cover belakang terdapat balon percakapan khas game yang menurut saya membantu dalam membedakan dialog di real dan game, ini juga berlaku untuk isi novel yang dilengkapi dengan jendela percakapan sehingga membantu pembaca.

        Alur cerita sebenarnya cukup lambat namun sangat tidak terasa, karena penulis berhasil membuat saya merasa nyaman dalam membaca hingga tidak sadar menghabiskan 434 halaman. Sudut pandnag yang digunakan yaitu orang ketiga serba tahu. Konsep cerita yang menarik juga membuat saya enggan untuk melepas buku ini dari pandangan saya. Karakter yang ditampilkan juga unik. Jika dalam kisah romance biasanya kita akan dihadapkan pada perempuan yang lemah, dan bergantung pada laki-laki, tapi hal ini  tidak berlaku dengan Wei Wei yang mandiri dan tulus. Saya juga suka karakter Xiao  Nai yang pendiam, namun cerdas. Karakter lain yang ada dalam cerita juga sangat menghibur dan menambah riuh suasana. Konflik yang diceritakan sebenarnya sangat khas novel romance, namun penulis lebih fokus kepada perkembangan hubungan antara Wei Wei dan Xiao Nai yang manis. Setelah membaca novel ini, saya paham bahwa cinta bisa datang dari mana saja. Jika diminta untuk memilih bab mana yang paling menarik, maka saya dapat dengan yakin mengatakan bahwa semua bab di novel ini sangat menarik.

        Yang menarik dalam novel ini adalah perpaduan antara romance, komedi dan game yang menurut saya merupakan konsep yang unik. Selain masalah percintaan, novel ini juga menyelipkan unsur persahabatan yang unik antara teman game dan teman real. Interaksi antara Xiao Nai dan Wei Wei yang manis dan lebih terasa seperti impian karena terlalu indahnya. Hubungan antara game dan kenyataan yang unik yang awalnya dari game bisa menjadi nyata. Saya juga suka bagaimana penulis mendeskripsikan pemandangan dalam game yang sedang dimainkan oleh Wei Wei sehingga dengan begitu mudahnya dapat saya bayangkan. Penulis juga berhasil menjelaskan betapa menariknya fitur game yang dimainkan oleh Xiao Nai dan Wei Wei. Novel Gu Man kali ini terasa begitu manis sampai saya masih merasa senang setelah membacanya. Setelah membaca novel ini pasti membuat mina-san ingin bermain game. Suasana dalam novel juga dibangun penulis dengan bagus sehingga membantu saya tidak bisa berhenti membacanya sebelum sampai benar-benar berakhir. Sedikit tambahan, seperti dalam novel Gu Man lainnya, novel ini juga memiliki beberapa cerita tambahan sehingga pembaca benar-benar puas ketika membaca karya-karya Gu Man.

           Novel ini sangat saya rekomendasikan untuk mina-san yang suka dengan genre romance dan mencari perpaduan romance yang unik dan menarik. Mina-san yang bermain game maupun yang tidak pernah bermain game dapat menikmati novel ini. Mina-san yang sangat menyukai karya Gu Man juga dapat membeli novel ini. Novel ini menjadi novel romance nomor 1 yang saya rekomendasikan untuk mina-san, pasti sangat rugi jika belum membaca novel ini. Novel Love O2O ini memang sangat sulit untuk di dapatkan secara offline, jadi saya sarankan untuk mina-san jika ingin membeli bisa secara online. Saya jamin, mina-san tidak akan rugi membacanya. Saya sangat menyesal karena baru saja memiliki buku ini. Bahkan membaca ulang 10 kali pun saya tidak akan bosan. Sekian review dari saya, terima kasih banyak dan smeoga review saya membantu mina-san. Sampai jumpa di review lainnya. Mata Ashita ne~

[Yi Xiao Nai He]: Menikahlah denganku. Halaman 19
September 11, 2020 3 komentar

Judul Asli: L'Appel de L'Ange
Judul Terjemahan: Call From an Angel
Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Penyelaras aksara: Titish A.K
Desain sampul: Chyntia Yanetha
Penata Sampul: @teguhra
Genre: Romance, Mystery
Jenis: Terjemahan Eropa
Penerbit: Penerbit Spring
ISBN: 978-602-6682-08-6
Ukuran: 14x20 cm
Tebal: 432 Halaman
Cetakan ke: 1
Terbit: Oktober 2017
Harga: Rp 89.000,00
Rating: 4 of 5

        Konichiwa mina-san, bulan September ini ada yang istimewa. Tanggal 2 September lalu merupakan hari dimana saya pertama kali melakukan review 3 tahun lalu. Jadi, untuk memeringatinya saya akan mereview buku yang berbeda. Beberapa waktu yang lalu ada request dari kak Adindahd untuk mereview Call From an Angel dari Guillaume Musso. Novel ini bukan merupakan novel Eropa pertama yang saya baca tapi ini novel Eropa pertama yang saya review di blog ini. 

Blurb
Di New York, tanpa sengaja ponsel 
Madeline dan Jonathan tertukar. Saat mereka menyadari
kesalahan tersebut, mereka sudah terpisah hampir sepuluh ribu
kilometer. Madeline adalah seorang floris di Paris,
sedangkan Jonathan memiliki restoran di San Fransisco.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi keduanya
untuk menyerah pada godaan dan menelusuri ponsel
masing-masing. Namun, itu malah menguak sebuah rahasia
yang ingin nereka berdua kubur selamanya.
Sebuah rahasia yang bisa membunuh mereka berdua.

Review
        Dari desain covernya, saya suka. Tampak sederhana dan manis. Dominasi warna putih dengan warna biru keunguan yang memberikan kesan minimalis. Ilustrasi yang tidak berlebihan dengan font judul yang mudah dibaca tapi juga cantik. Bahkan saya mengapresiasi judul asli novel masih dicantumkan pada covernya. Bagian belakang novel juga tampak sederhana dan manis. Terdapat beberapa noda darah yang baru saya sadari setelah tamat membaca.

        Alur cerita terkesan lambat. Penulis membawa pembaca menuju kehidupan masing-masing karakter yang terlihat biasa saja. Kemudian, tanpa sadar mulai terseret ke masa lalu mereka. Sudut pandang yang digunakan orang ketiga serba tahu. Penulis berhasil menempatkan perpindahan karakter yang diceritakan sehingga lebih menarik, ketika membacanya saya seperti tengah menonton film. Karakter yang ditampilkan cukup banyak, namun hanya berfokus pada Madeline, Jonathan dan seorang lagi yang menjadi rantai penghubung keduanya. Perkembangan kedua karakter terasa cukup cepat, karena kebudayaan yang berbeda sehingga cukup membuat saya sedikit shock. Suasana yang dihadirkan juga perlahan semakin berat. Romansa antara keduanya memiliki porsi yang cukup, tidak banyak dan tidak sedikit. Namun, kalian dapat mengetahuinya dari bagaimana mereka mencemaskan satu sama lain. Dari novel ini, saya belajar bahwa rasa penasaran berlebihan itu sesuatu yang tidak baik. Mungkin jika tidak saling penasaran, mereka tidak akan terjebak pada rahasia satu sama lain.

        Awal membaca novel ini, saya kira ini merupakan novel romansa manis khas luar. Sejujurnya itu pikiran saya setelah membaca blurb dan menganggap bahwa rahasia yang membunuh merupakan masalah yang sederhana, apalagi covernya terlihat manis. Ternyata, jangan menilai buku dari covernya, begitu masuk bagian pertengahan, saya sangat terkejut. Apalagi saya pikir, novel ini merupakan genre pure romance, ternyata terdapat sedikit adegan misteri, thriller, action dan gore tapi dipadukan dengan cara yang menarik untuk mina-san yang suka dengan film barat.

        Singkat kata, saya rekomendasikan novel ini untuk mina-san yang menyukai romance eropa anti mainstream, mina-san yang menyukai romance dibumbui adegan tembak menembak, mafia dan kawan-kawannya. Kalian yang ingin mengubah sudut pandang tentang genre romance bia membeli novel ini. Meskipun cukup tebal namun menarik karena cara penulis membawakan cerita dengan baik. Sekian review dari saya. Terima kasih banyak telah membaca dan terima kasih telah mendukung asakononiwa hingga saya bisa menulis review sampai detik ini. Terima kasih telah meninggalkan komentar. Mohon dukungannya sekali lagi. Mata Ashita ne〜

Dia tahu gadis itu.
Dia pernah bertemu dengannya.
Dia pernah bicara dengannya.
Halaman 193
September 10, 2020 2 komentar

Judul Asli: 灰姑娘也發成 (Huī gūniáng yě fā chéng)
Judul Terjemahan: Because of You
Penulis: Xi Zhi 
Penerjemah: Jeanni Hidayat
Penyunting: Hisni Munafarifana
Proofreader: Titish A.K
Desain kover: Indah Rakhmawati
Layout sampul: @fadiaaaa_
Genre: Romance
Jenis: Mandarin Novel
Penerbit: Penerbit Haru
ISBN: 978-602-6383-02-0
Ukuran: 13x19 cm
Tebal: 218 Halaman
Cetakan ke: 1
Terbit: Juli 2017
Harga: Rp 59.000,00
Rating: 3 of 5

        Konichiwa mina-san, apa kabar? Kali ini saya akan mereview novel yang diterjemahkan oleh Penerbit Haru. Ini novel kedua dari penulis Xi Zhi yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Haru setelah A Dandelion Wish. Masih sama dengan genre sebelumnya, M Novel selalu identik dengan romance. Mari kita mulai reviewnya.

Blurb
Feng Ling kehilangan ayahnya saat masih remaja.
Ibunya juga meninggalkannya karena sakit jantung.
Dia terpaksa bekerja di rumah majikan ibunya
untuk membiayai hidup.
Majikannya itu baik, dan Feng Ling bisa
melanjutkan sekolahnya sambil bekerja.

Dia pikir kesulitan hidupnya telah berlalu, dan hidupnya akan
menjadi lebih baik. Namun, siapa sangka semuanya berubah
dalam sekejap.

Semuanya dimuali dari permintaan Tuan Muda Kedua.
Permintaan itu menyebabkan Feng Ling sampai tidak berani
membayangkan aapa yang akan terjadi besok atau lusa.
Dia hanya bisa membayangkan kapan dunia ini berhenti.

Review
        Cover novel kedua Xi Zhi ini lebih manis dari yang pertama. Di dominasi warna ungu dan putih, nampak sangat manis dan lembut. Menggunakan teknik pointilism pada bagian atas cover depan sehingga tampak seperti sinar lampu, ada buble yang menambah kesan manis dari cover. Saya suka pemilihan fontnya yang mudah dibaca dengan fill putih dan ungu yang senada dengan covernya. Saya juga sangat bersyukur karena ada tulisan mandarin sehingga membantu untuk mengetahui judul aslinya. 

        Alur novel ini mundur. Meskipun demikian terasa cepat, tentu saja hal ini sangat memengaruhi halaman novel yang sekitar 218 halaman. Sudut pandang yang digunakan merupakan orang ketiga serba tahu sehingga memudahkan kita untuk melihat sudut pandang masing-masing karakter. Walaupun demikian, penulis sangat pandai dalam mendeskripsikan cerita. Ia tahu dimana harus meletakkan kapan harus menuliskan kejadian masing-masing tokoh sehingga terasa sedikit misterius. Karakter yang diceritakan dalam novel ini berpusat pada Feng Ling dan Tuan Muda Kedua alias Guan Zhen. Perkembangan karakter diceritakan cukup cepat, namun saya masih bisa menikmati ceritanya. Novel ini memberikan pelajaran bahwa ada kalanya kita perlu menjadi egois. Konflik yang disajikan cukup khas novel romance, saya yakin pasti para penyuka romance paham dengan konsep novel ini.

        Yang menarik pada novel ini adalah bagian awal cerita, saya cukup terkejut dengan awal novel yang terasa berat, namun setelah kembali ke masa lalu saya mulai paham dengan maksud penulis. Konflik cukup menarik karena Feng Ling memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan Guan Zhen yang emosian. Seperti novel Xi Zhi sebelumnya, novel ini berhubungan erat dengan kedokteran, mengingat settingnya sering kali di rumah sakit seperti novel Xi Zhi yang sebelumnya. Terdapat beberapa istilah kedokteran namun mudah sekali untuk dipahami. Setelah saya membaca novelnya, saya mulai paham permintaan Tuan Muda Kedua yang mengubah hidup Feng Ling. Tapi, saya rasa perubahan itu terjadi karena pertemuan keduanya dan kebiasaan Feng Ling. Jika di kehidupan nyata saya akan sangat takut dengan sosok seperti Guan Zhen.

        Novel ini saya rekomendasikan untuk mina-san yang menyukai romance dengan konflik klasik. Mina-san yang suka dengan dunia kedokteran dan pengorbanan seorang ibu, sejujurnya saya sempat sedih membacanya sampai tenggorokan saya sakit karena tidak bisa menangis. Novel ini juga cocok untuk dibaca sekali duduk karena halamannya yang cukup sedikit untuk ukuran novel yang pernah saya baca. Alurnya yang cepat, juga cocok untuk mina-san yang tidak sabar untuk membaca akhir ceritanya. Novel ini dapat dibeli secara online maupun offline. Harga novel ini Rp 59.000,00. Sangat murah dan cukup memuaskan. Saya selipkan salah satu dialohg yang akan merubah hidup Feng Ling. Sekian review dari saya. Semoga dapat membantu mina-san. Sampai jumpa di review lainnya, mata ashita ne~

"Hadiah Natal... Aku mau Feng Ling sebagai hadiah Natal-ku!" Halaman 41

September 05, 2020 No komentar
Newer Posts
Older Posts

Hajimemashite

About Me

Asako
Seorang wibu yang suka membaca buku dan mencoba untuk menjadi blogger. Blog ini berisi tentang buku yang telah saya baca. Kore kara mo yoroshiku onegaishimasu~

Contact me: asakononiwa@gmail.com

Follow Us

Japanese Author

Akiyoshi Rikako Arikawa Hiro Asai Ryo Ayatsuji Yukito Chinen Mikito Dazai Osamu Edogawa Ranpo Fumio Sasaki Higashigawa Tokuya Higashino Keigo Ibuki Yuki Imamura Masahiro Kaiji Motojiro Kawaguchi Toshikazu Kawamura Genki Koshigaya Osamu Matsuda Aoko Minato Kanae Miyashita Natsu Murata Sayaka Nakamura Kou Natsume Soseki Ogawa Mimei Sakae Tsuboi Sasaki Tsukasa Shimada Soji Shinkai Makoto Shoji Yukiya Sosuke Natsukawa Sumino Yoru Tetsuko Kuroyanagi Tsujimura Mizuki Yonezawa Honobu Yoshimoto Banana

Mandarin Author

Ba Yue Chang An Giddens Ko Gu Man Ikumisa Kim Young ha Macchiato Neal Wu Star Cheng Tong Hua Xi Zhi Yang Yang

Korean Author

Jeong You Jeong Kim Young ha Lee Kkoch-Nim Mijin Jung You Sun Dong

Fiction

Comedy Dark Fairytales Drama Fantasy Gore Horror Iya-misu Koten-bu Series Mystery Photography Psychology Romance Semi-Autobiografi Slice of Life Sport Thriller

Non Fiction

Education Self Improvement Semi-Autobiografi Social Sciences

recent posts

Popular Posts

  • (Review) The Tokyo Zodiac Murders
    Judul Asli: 占星術殺人事件 ( Senseijutsu Satsujinjiken) Judul Terjemahan: The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo) Penulis: Shimada Soji ...
  • (Review) Kitchen
      Judul Asli: キッチン(Kitchen) J udul Terjemahan: Kitchen Penulis: Yoshimoto Banana Penerjemah: Ribeka Ota Pemeriksa Bahasa: Andry ...
  • (Review) I Saw The Same Dream Again
    Judul Terjemahan: Mata, Onaji Yume wo Miteita Judul: I Saw The Same Dream Again Pengarang: Sumino Yoru Genre: Slice of Life Jenis: J...

Blog Archive

  • ▼  2023 (10)
    • ▼  Desember (3)
      • (Review) Imprisonment
      • (Review) Motherhood
      • (Review) The Cat Who Saved The Book
    • ►  November (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2020 (29)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (22)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (6)
  • ►  2018 (16)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2017 (2)
    • ►  September (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

Created with by ThemeXpose